SAH KERJA KERAS PERANGI STUNTING DI PROVINSI JAMBI

Dobrak.id – JAMBI. Anggota Komisi IX DPR RI Dr. Ir. H. A.R. Sutan Adil Hendra, MM bersama BKKBN sebagai mitra kerja terhadap usaha memerangi stunting di Provinsi Jambi mendapat dukungan dari berbagai komponen masyarakat.

Salah satu usaha yang terbaru ketika Ketua DPD Partai Gerindra Provinsi Jambi itu melalakukan program kampanye penurunan stunting di dua lokasi, Kabupaten Tanjung Jabung Timur dan Tanjung Jabung Barat. Sebelumnya SAH juga melakukan kampanye stunting di Kabupaten Muaro Jambi, Kabupaten Kerinci dan Kota Jambi.

Sebagaimana diketahui Kabupaten Muaro Jambi dan Kerinci merupakan dua kabupaten yang memiliki kasus stunting tertinggi di Provinsi Jambi. Sehingga usaha SAH melakukan kampanye di dua kabupaten tersebut dipandang tepat sasaran.

Diwawancarai terpisah, SAH menjelaskan pemerintah menargetkan prevalensi stunting di tahun 2024 sebesar 14 persen. Dengan angka stunting di tahun 2021 sebesar 24,4 persen maka untuk mencapai target tersebut diperlukan penurunan 2,7 persen di setiap tahunnya.

Menurutnya untuk mencapai target tersebut pemerintah melakukan dua intervensi holistik, yaitu intervensi spesifik dan intervensi sensitif.

Dijelaskan SAH intervensi spesifik adalah intervensi yang ditujukan kepada anak dalam 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) dan kepada ibu sebelum dan di masa kehamilan, yang umumnya dilakukan di sektor kesehatan. Sedangkan intervensi sensitif dilakukan melalui berbagai kegiatan pembangunan di luar sektor kesehatan dan merupakan kerja sama lintas sektor.

“Untuk menurunkan stunting, 30 persen bergantung kepada intervensi spesifik dan 70 persen bergantung kepada intervensi sensitif,” jelasnya.

Selanjutnya SAH menyampaikan, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) sebagai pelaksana percepatan penurunan angka stunting nasional agar terus mengoordinasikan upaya intervensi tersebut dengan melibatkan kementerian/lembaga terkait.

Sehingga SAH menekankan bahwa intervensi stunting perlu dilakukan sebelum dan setelah kelahiran. Intervensi sebelum kelahiran diperlukan karena berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 sekitar 23 % anak lahir dengan kondisi sudah stunting akibat kurang gizi selama kehamilan.

( lim / Dobrak.id )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *